Karya kerasulan keluarga Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) Propinsi Jawa, hadir di Jl. Guntur 20, Semarang sejak 1998.
Siapa kami
Pusat gerakan pastoral keluarga
Di Pusat Pastoral Keluarga (PPK), kharisma MSF untuk keluarga tidak berhenti sebagai wacana. Kharisma itu diwujudkan dengan mengembangkan pastoral keluarga, memberikan pendampingan dan pembinaan, mempersiapkan para pendamping keluarga, serta membantu keluarga menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
PPK tidak dimaksudkan sekadar menjadi tempat kegiatan keluarga. PPK diharapkan menjadi pusat gerakan pastoral keluarga: tidak hanya menunggu keluarga datang, tetapi bergerak keluar, membangun jaringan, menyiapkan para pendamping, dan bekerja sama dengan paroki serta lembaga lain untuk mengembangkan pendampingan sesuai kebutuhan nyata.
Gedung PPK MSF, Jl. Guntur 20, Semarang
Visi
Visi dan Misi
Terwujudnya keluarga yang berakar pada Kristus, bertumbuh dalam kasih, dan menjadi pewarta sukacita Injil.
1
Berakar pada Kristus
Hidup keluarga dibangun bukan hanya di atas kemampuan, ekonomi, pekerjaan, atau kenyamanan, tetapi di atas dasar iman yang kuat. Keluarga belajar melihat seluruh perjalanan hidupnya, suka dan duka, untung dan malang, sehat dan sakit, dalam terang iman.
2
Bertumbuh dalam kasih
Keluarga yang baik bukan keluarga tanpa konflik. Kasih perlu terus dipelajari dan dilatih: lewat komunikasi, mendengarkan, pengampunan, kesetiaan, penerimaan, penyembuhan luka, dan kesediaan untuk memulai kembali.
3
Pewarta sukacita Injil
Tujuan akhir pendampingan bukan sekadar keluarga yang tidak bermasalah. Keluarga yang telah mengalami kasih Allah diharapkan menjadi berkat bagi keluarga lain, bukan lagi objek, melainkan subjek pastoral.
Misi
Mendampingi
Hadir dan berjalan bersama keluarga dalam realitas hidupnya. Bukan menghakimi atau buru-buru memberi jawaban, tetapi mendengarkan dan memahami. Wujudnya: konseling keluarga, pendampingan pasutri, konsultasi, pendampingan keluarga dalam krisis, dan ruang perjumpaan untuk berbagi.
Membina
Membekali keluarga dengan pengetahuan, keterampilan, dan spiritualitas: pendidikan keluarga berkelanjutan, komunikasi pasangan, spiritualitas perkawinan, pengasuhan anak, pengelolaan konflik, kesehatan relasi, dan konseling dasar.
Memberdayakan
PPK tidak ingin keluarga selalu bergantung. Keluarga dan para pendamping awam diberdayakan agar makin mampu menyelesaikan persoalan, membangun keluarga yang sehat, dan membantu keluarga lain.
Mengutus
Keluarga yang telah didampingi, dibina, dan diberdayakan siap diutus: tidak hanya menerima pelayanan, tetapi ikut melayani. Dari sini lahir semakin banyak keluarga, pasutri, dan pendamping awam yang menjadi rasul bagi keluarga lain.
Spiritualitas
Berakar pada semangat MSF
Keluarga Kudus Nazareth
Pater Berthier melihat Keluarga Kudus Nazareth sebagai teladan hidup keluarga dan hidup misioner: Yesus bertumbuh dalam sebuah keluarga, didampingi Maria dan Yosef.
Keluarga menjadi tempat pendidikan iman, tempat belajar bekerja, mengasihi, melayani, dan menaati kehendak Allah, tempat Allah hadir dalam keseharian. Dari Nazareth, MSF menimba kesederhanaan, penerimaan, kerja keras, kasih, dan ketaatan kepada kehendak Allah.
Bunda Maria La Salette
Pater Berthier menjadikan Bunda Maria La Salette pelindung Kongregasi MSF. Pesan Bunda Maria kepada Maximin dan Melanie adalah pesan pertobatan: ajakan bagi setiap orang untuk kembali kepada Tuhan.
Pada 2026, Gereja mengenang 180 tahun penampakan Bunda Maria di Bukit La Salette. Setiap anggota MSF diajak mewartakan pertobatan di mana pun ia diutus.
Tiga Kerasulan MSF
Panggilan, Misi, dan Keluarga saling terkait dan tidak terpisahkan. Keluarga adalah tempat lahirnya iman, tempat pertama orang mengalami kasih Allah, dan tempat pertama Injil diwartakan.
Karena itu keluarga bukan hanya sasaran evangelisasi, tetapi juga pelakunya, entah lewat hidup berkeluarga, menjadi imam, biarawan-biarawati, atau hidup tidak menikah.
“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.”
Matius 9:37, sabda yang mengilhami Pater Jean Berthier
Sejarah
Dari Grave sampai Jl. Guntur 20
Kongregasi MSF berdiri di Grave, Belanda
Didirikan oleh Pater Jean Berthier, MS (Misionaris La Salette), digerakkan dua keprihatinan: banyak orang jauh dari Injil dan membutuhkan pewartaan, dan banyak pemuda terpanggil menjadi imam namun terhalang kemiskinan atau usia sehingga tidak dapat masuk seminari. Sejak awal, MSF memberi perhatian pada misi dan panggilan.
Misionaris MSF pertama tiba di Kalimantan
Atas undangan Mgr. Pacifius Bos, OFM Cap., yang wilayah pelayanannya di Mahakam sangat luas dengan tenaga terbatas, tiga misionaris MSF tiba di Laham, Kalimantan Timur: P. Frans Groot, MSF, P. J. van Linden, MSF, dan Br. Egidius Stoffels, MSF.
Pusat misi pindah ke Tering
Dinilai lebih strategis, Tering menjadi pusat misi. Dari sana karya MSF berkembang ke Balikpapan, Samarinda, Tarakan, Long Pahagai, Tiong Ohang, dan Barong Tongkok.
Karya MSF di Tanah Jawa
Serikat Jesus (SJ) kekurangan imam untuk paroki dan stasi yang terus berkembang. Mgr. Antonio Pietro van Velsen, SJ, Vikaris Apostolik Batavia, meminta bantuan MSF, dan kesepakatan tercapai pada 15 Juni 1931. Pada Februari 1932, P. Matthias Johannes Xaverius Wilkens, MSF, P. Johannes van der Steeght, MSF, dan P. Nicolas Havenman, MSF tiba dan menuju Semarang, melayani wilayah dari stasi Bangkong hingga Kudus dan Pati.
Kerasulan keluarga diarahkan ke sebuah pusat
Panggilan yang terus bertumbuh menjadikan MSF di Jawa propinsi mandiri, terpisah dari Propinsi Kalimantan. Kapitel Propinsi (keputusan no. 4) menugaskan Dewan Pimpinan Propinsi (Depimprop) periode 1992–1995 meningkatkan kerasulan keluarga ke arah sebuah lembaga pusat yang pelayanan dan bentuknya lebih jelas.
Keputusan membangun gedung
Kapitel Propinsi 1995 (keputusan no. 4) menugaskan pembangunan gedung pusat kerasulan keluarga di atas tanah sebelah barat propinsialat MSF, Jl. Guntur 20, Semarang.
Gedung diresmikan
Gedung Pusat Pendampingan Keluarga diresmikan oleh Mgr. Ignatius Suharyo, Pr, Uskup Keuskupan Agung Semarang. Kapitel Propinsi 1998 (no. 11) kemudian menugaskan pembentukan lembaga dan pengurus yang menetapkan kebijakan pemanfaatan gedung Pusat Pastoral Keluarga.
Kepemimpinan
Para Direktur PPK MSF
Program dan pengelolaan gedung PPK dipercayakan kepada seorang Direktur yang ditunjuk dan diberi SK oleh Dewan Pimpinan Propinsi (DPP) MSF Propinsi Jawa.